Bina Rohani 2018

Pada hari Selasa, 23 Januari 2018 anak – anak kelas IX SMP Maria Immaculata mengikuti kegiatan rutin tiap tahun yaitu Bina Rohani atau Bina Mental. apa sih Bina Mental itu? yuk kupas More »

Latihan Dasar Kepemimpinan (LDK) Tahun 2017/2018

Hallo Sahabat Maria Immaculata, Hari ini Regu OSIS SMP Maria Immaculata Cilacap mengikuti Kegiatan LDK yang di Bimbing oleh Bapak John Koli dari Atambua Flores. emm ada yang tau gak LDK itu More »

Lomba DrumBand HUT Pertamina Ke- 51

dung tek tek dung tek tek… teloleeeeeetttt.. yaakk… sahabat Gita Marita pada hari Sabtu, 17 Desember 2016 tim drumband sangat bersemangat mengikuti lomba Drumband dalam rangka HUT Pertamina yang ke- 51. mulai More »

Ziarah dan Rekreasi Ke Gua Maria Kereb Ambarawa

Hai Sahabat Marita, pada hari Jumat tanggal 4 November 2016 sebagian Warga Belajar mengikuti kegiatan Ziarah dan rekreasi ke Gua Maria Kereb Ambarawa, Taman Kyai Langgeng, dan Ketep Pass. Perjalanan dimulai pada More »

Bulan Bahasa Tahun Pelajaran 2016

Pada Hari Jumat, 28 Oktober 2016 bertepatan dengan Hari Sumpah Pemuda, Smp Maria Immaculata Cilacap mengadakan berbagai lomba dalam rangka Bulan Bahasa diantaranya yaitu : 1. Lomba Cipta Cerpen 2. Lomba Cipta Puisi More »

 

Latihan Dasar Kepemimpinan (LDK) Tahun 2017/2018

Hallo Sahabat Maria Immaculata, Hari ini Regu OSIS SMP Maria Immaculata Cilacap mengikuti Kegiatan LDK yang di Bimbing oleh Bapak John Koli dari Atambua Flores. emm ada yang tau gak LDK itu apa? yuk simak
Latihan Dasar Kepemimpinan ( LDK) adalah sebuah pelatihan dasar tentang segala hal yang berkaitan dengan kepemimpinan. Pelatihan ini biasanya yang diberikan oleh Pengurus OSIS lama kepada calon Pengurus OSIS baru, baik untuk tingkat Sekolah Menengah Pertama maupun Sekolah Menengah Atas (untuk Latihan Dasar Kepemimpinan (LDK) tingkat sekolah menengah). Pelatihan dasar yang diberikan ini bertujuan untuk memberikan bekal kepemimpinan kepada Pengurus OSIS baru yang nantinya akan menjadi pemimpin dari seluruh kesatuan OSIS dari sekolah yang bersangkutan.

Latihan Dasar Kepemimpinan (LDK) biasanya diberikan dalam 2 bagian yaitu Latihan Dasar Kepemimpinan (LDK) Fisik dan Latihan Dasar Kepemimpinan (LDK) Mental. Pemberian materi dari kedua jenis LDK ini biasanya diberikan di waktu dan tempat yang berbeda. Untuk Latihan Dasar Kepemimpinan (LDK) Mental, yang menjadi pemberi materi bukanlah lagi para Pengurus OSIS lama melainkan Dewan Guru, Pembina OSIS, Kepala Sekolah serta Guru Psikologi dan Konseling dari sekolah yang bersangkutan, atau bisa juga dengan cara menyewa dari suatu Lembaga Psikologi Independen.

Dalam Latihan Dasar Kepemimpinan (LDK) Fisik ini peserta dituntut untuk memiliki kedisiplinan yang tinggi, terlebih selama mengikuti 3-5 hari Latihan Dasar Kepemimpinan (LDK). Beberapa peraturan yang pada umumnya diterapkan dalam Latihan Dasar Kepemimpinan (LDK) ialah : Selama pelaksanaan Latihan Dasar Kepemimpinan (LDK), peserta harus hadir di tempat tepat waktu,

Kebersamaan ialah hal yang amat diperhatikan selama pelaksanaan Latihan Dasar Kepemimpinan (LDK). Jika ada 1 peserta saja yang tidak membawa air minum, saputangan, topi, ataupun atribut-atribut lainnya yang telah ditetapkan, maka seluruh pesertalah yang akan menanggung hukumannya,Setiap peserta wajib mematuhi seluruh peraturan dan perintah yang diberikan oleh tim pemberi Latihan Dasar Kepemimpinan (LDK).

Jika tidak, maka kepadanya akan diberikan hukuman, dan kebersamaan juga diterapkan apabila ada salah satu peserta Latihan Dasar Kepemimpinan (LDK) yang melakukan kesalahan.Hukuman dalam Latihan Dasar Kepemimpinan (LDK) Fisik biasanya berupa push-up untuk pria atau scott jump untuk wanita. Jumlahnya tergantung perintah dari pemberi Latihan Dasar Kepemimpinan (LDK).

Untuk Latihan Dasar Kepemimpinan (LDK) Mental pada umumnya, materi yang diberikan secara garis besar ialah dalam bentuk Penyuluhan Mental Kepemimpinan. Materi tersebut biasa disampaikan melalui permainan-permainan yang memiliki nilai kepemimpinan, seperti :

Memasukkan paku dalam botol dengan mata tertutup. Salah seorang yang lain memberikan aba-aba agar paku tersebut masuk. Dibutuhkan kemampuan untuk menganalisa segala macam kemungkinan dan kemampuan untuk memerintah secara hati-hati dan terpertimbangkan agar bisa mencapai goal dari permainan ini yaitu memasukkan paku dalam botol.

Dibutuhkan kemampuan sebagai pendengar sekaligus penyampai pesan yang baik agar dapat menyampaikan pesan yang benar dari awal hingga akhir. Pemberian materi kepemimpinan yang dibagi dalam beberapa sessi, seperti :

a). Sessi Kepemimpinan : Penyuluhan mengenai karakter pemimpin yang benar.

b). Sessi Komunikasi : Penyuluhan mengenai cara-cara berkomunikasi yang benar sebagai layaknya seorang pemimpin.

c). Sessi Problem Solving / Challange : Penyuluhan mengenai cara-cara seorang  pemimpin memecahkan masalah secara efektif dan benar.

d). Sessi Dinamika Kelompok : Berupa permainan.

  1. Pengertian Pendidikan Kewarganegaraan

Sedangkan Pendidikan Kewarganegaraan menurut pasal 39 Undang-Undang No. 22 Tahun 1999 tentang sistem pendidikan nasional dalam Cholisin (2001:1)  bahwa “ Pendidikan Kewarganegaraan merupakan mata pelajaran yang memberikan penegetahuan dan kemampuan dasar hubungan warga negara dengan pemerintah agar menjadi warga negara yang dapat diandalkan oleh bangsa dan negara”.

Pendapat yang hampir senada disampaikan oleh S. Sumarsono (2002:6), bahwa yang dimaksud dengan Pendidikan Kewarganegaraan adalah “ merupakan usaha untuk membekali peserta didik dengan kemampuan dasar berkenaan dengan hubungan antara warga negara dengan hubungan antara warga negara dengan negara  serta pendidikan pendahuluan bela negara, agar menjadi warga negara yang dapat yang dapat diandalkan oleh bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia”

Berdasarkan modul Kapita Selekta PKn (2006: 7) pengertian PKn adalah: Pendidikan Kewarganegaraan merupakan wahana untuk mengembangkan dan melestarikan nilai luhur dan moral yang berakar pada budaya bangsa Indonesia, yang diwujudkan dalam bentuk perilaku sehari-hari, baik sebagai individu, anggota masyarakat maupun makhluk ciptaan Tuhan Yang Maha Esa, yang membekali siswa dengan budi pekerti, pengetahuan dan kemampuan dasar berkenaan dengan hubungan warga negara dengan negara, serta pcndidikan pcndahuluan bela negara.

Sedangkan penegertian pendidikan kewrganegaraan menurut pendapat CICED (Centre For Indonesian Civic Education) dalam Cholisin( 2001:1), bahwa Pendidikan Kewarganegaraan  adalah :

Pendidikan Kewarganegaraan merupakan proses transformasi yang membantu membangun masyarakat yang heterogen menjadi kesatuan masyarakat Indonesia yang memiliki pengetahuan dan kepercayaan terhadap Tuhan, memiliki kesadaran yang tinggi terhadap hak dan kewajiban, berkesadaran hukum, memiliki sensitifitas politik, berpartisipasi politik dan masyarakat madani (civil society).

Berdasarkan pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa pendidikan kewarganegaraan adalah merupakan usaha untuk membekali peserta didik dengan kemampuan dasar agar mampu menjadi warga negara yang memiliki pengetahuan dan kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa, memiliki kesadaran yang tinggi terhadap hak dan kewajiban, berkesadaran hukum, sensitifitas politik, berpartisipasi politik dan masyarakat madani.